World News Online

budihermanto.blogdetik.com

Archive for August, 2008


Jangan hanya bisa menyalahkan anak yang nakal

hanamichi.gifNamanya saja anak-anak, pasti selain pandai pasti juga nakal. Sebab anak-anak pada dasarnya memang rasa keingintahuannya sangat tinggi, dengan masih belum bisa memilah dan memilih mana yang benar dan mana yang salah.
(more…)

Kapan orang tua seharusnya mulai merasa bangga pada anaknya?

children.jpgPernah suatu ketika secara tak sengaja saya sekilas melihat sebuah adegan dari sebuah acara reality show pencarian idola remaja secara instan di televisi. Adegan itu memperlihatkan seorang ibu dan anak gadisnya yang sedang memilih-milih gaun yang akan digunakan di acara show tersebut.
(more…)

Intan, emas dan busung lapar

Siapa berani menyangkal
Dari perutmu berbuah intan
Dari dadamu mengalir emas
Dengan intan dan emas itu
Bisa kau dapatkan kendaraan tercanggih dari Romawi
Dengan intan dan emas itu
Bisa kau dapatkan pakaian termewah dari Babilonia
Dengan intan dan emas itu
Bisa kau dapatkan makanan terlezat dari Himalaya
Tapi..
Mengapa kau masih berjalan tanpa alas kaki?
Mengapa kau masih berbaju daun dari hutan?
Mengapa kau masih membuncit karena busung lapar?
Siapa..
Siapa yang memetik intan dari perutmu?
Siapa yang menghisap emas dari dadamu?
Memetik dan menghisap tanpa sepengetahuanmu
Memetik dan menghisap bukan untukmu

Save the Papua!

Kenapa? Apa salahku?

Sekilat cahaya menusuk mata
Suara gemuruh memecahkan gendang telinga
Gelap..
Gelap dimana-mana
Sayup-sayup suara bertebaran
Erangan manusia-manusia menyayat pilu
Ada yang menangis
Ada yang merintih
Ada juga yang diam
Tidak bisa menangis
Tidak bisa merintih
Diam..
Diam selamanya
Ceceran darah ada di lantai
Ceceran daging ada di langit-langit
Potongan tubuh manusia terlempar kemana-mana
Itu..
Itu potongan tubuh ayahku
Itu potongan tubuh ibuku
Itu potongan tubuh suamiku
Itu potongan tubuh isteriku
Itu potongan tubuh anakku
Kenapa?
Kenapa kau turunkan tangan mautmu?
Apa salah ayahku?
Apa salah ibuku?
Apa salah suamiku?
Apa salah isteriku?
Apa salah anakku?
Apa salahku?

Stop terorism!

Air murka atau air senyum

Belum hilang suara desingan peluru-peluru itu
Selongsongan peluru yang terjatuh pun masih berserakan
Belum hilang rasa sakit akibat tembakan itu
Darah yang mengalir dari luka pun masih belum mengering
Kini bukan lagi selongsongan peluru yang berserakan
Kini bukan lagi darah yang mengalir
Peluru-peluru itu telah terseret
Darah-darah itu telah tersapu
Oleh air
Air yang berasal dari dalam samudera
Air yang tergerak oleh gesekan perut bumi
Air yang datang dengan gagah
Air yang ingin memeluk bumi
Menerjang semua yang menghalanginya
Inikah air murka Mu
Atau inikah air senyum Mu
Hanya satu pinta kami
Tetap lirik kami
Tetap toleh kami

Please, heal the Aceh

Melancarkan peredaran darah dengan yoga

Seperti yang kita ketahui bersama, tubuh ini butuh untuk bergerak. Bukan sekedar bergerak, tapi gerakan olahraga. Gerakan olahraga adalah gerakan tubuh yang diatur intensitasnya dan dibarengi dengan pengambilan dan pengeluaran napas yang juga diatus sedemikian rupa.
Nah, kalau olahraga berat sepertinya sudah terlalu banyak yang sudah mengetahuinya. Tapi, kali ini saya mencoba membagi sebuah rangkaian gerakan olahraga ringan. Dikatakan ringan karena tidak membutuhkan tempat yang luas, tidak membutuhkan waktu yang lama, bahkan tidak membutuhkan peralatan pendukung sama sekali. Maaf, bahkan kalau dikatakan secara ekstrem, hanya bermodalkan pakaian dalam saja sudah cukup, hehehe.
(more…)

THIS EARTH OF MANKIND - Novel Indonesia yang diakui dunia

this-earth-of-mankind.jpg
Minke, panggilan ini pertama kali dilontarkan oleh Meneer Ben Rooseboom, guru pertamanya di E.L.S (semacam Sekolah Dasar). Sejak itu teman-teman di seluruh kelas dan guru-guru memanggilnya dengan nama itu. Semua orang di luar E.L.S juga, bahkan kakeknya sendiri, seorang pribumi yang tidak bisa membaca dan menulis tulisan latin apalagi Belanda, justru setuju menerima nama panggilan itu sebagai nama tetap. Sebuah nama kehormatan dari seorang guru yang baik dan bijaksana, begitu titah kakeknya. Walaupun seingatnya, Meneer Ben Rooseboom sendiri pada saat menyebut nama itu untuk pertama kalinya, diucapkan dengan mata melotot dan alis seperti hendak copot.
Lalu sejak sekolah di H.B.S (semacam Sekolah Menengah Atas) Surabaya, Minke dikenal mengagumi seorang dara yang cantik, kaya, berkuasa, dan gilang gemilang. Yang bahkan bankier-bankier terkaya di dunia dan para ningrat gagah sekalipun tidak bisa mendapatkan perhatian dari sang dara. Dara kekasih para dewa, demikian Minke menyebut sang dara, seumuran dengannya. Delapan belas tahun, bahkan hari kelahiran mereka juga sama, 3 Agustus 1880. Jika ingin menemui dara kekasih para dewa ini, pelayaran sebulan naik kapal, mengarungi dua samudera, lima selat dan satu terusan harus dilalui. Itu pun belum tentu bisa menemui sang dara, dara yang baru saja pada hari Kamis Kliwon 6 September 1898 naik tahta sebagai Ratu kerajaan Belanda, dialah Sri Ratu Wilhelmina.
Hingga suatu saat Minke berkunjung ke Boerderij Buitenzorg (Perusahaan Pertanian Buitenzorg) di daerah sekitaran Wonokromo, Surabaya. Disana dia bertemu dengan Annelies Mellema dan Nyai Ontosoroh. Annelies adalah seorang perempuan berdarah Indo, anak kedua dari Herman Mellema dan Nyai Ontosoroh. Dalam pandangan Minke, Annelies Mellema adalah sosok dara nyata berdaging yang bisa menandingi kecantikan sang dara impiannya. Annelies Mellema mempunyai sifat yang sedikir aneh, dari seorang anak kecil yang suka bermanja-manja pada ibunya langsung berubah menjadi seorang mandor tegas yang disukai oleh para pekerjanya. Sedangkan Nyai Ontosoroh adalah seorang perempuan pribumi yang menjadi gundik (isteri simpanan) seorang mantan pejabat pemerintah kolonial Belanda, Herman Mellema. Hingga akhirnya Minke jatuh cinta dan menikahi Annelies Mellema.
Keadaan menjadi runyam saat Herman Mellema ditemukan mati keracunan di sebuah rumah bordil milik Babah Ah Tjong. Ditambah dengan kedatangan anak Herman Mellema dari isteri syahnya di Belanda, Amelia Mellema-Hammers, yang bernama Ir. Maurits Mellema. Yang datang untuk menyita semua aset kekayaan Herman Mellema di Surabaya, yang termasuk rumah dan perusahaan yang selama ini dikelola oleh Nyai Ontosoroh bersama Annelies Mellema. Pengadilan Hindia Belanda sendiri akhirnya memutuskan harta kekayaan Herman Mellema sebagai hak milik Ir. Maurits Mellema, bahkan Annelies Mellema juga harus dideportasi ke Belanda dibawah asuhan Ir. Maurits Mellema.
Dengan setting kota Surabaya pada era akhir abad 19, novel ini menunjukan kehidupan bangsa Indonesia dibawah penjajahan kolonial Belanda. Dari sosok Minke, penggemar tulisan Multatuli (Eduard Douwes Dekker), seorang pribumi anak seorang Bupati yang sudah berpikiran modern layaknya seorang keturunan Eropa, yang berani jatuh cinta pada seorang dara indo nan cantik. Hingga sosok Nyai Ontosoroh, perempuan pribumi yang pada usia 13 tahun sudah dijual oleh ayahnya yang seorang juru tulis yang ingin meningkatkan karir, kepada seorang pejabat Belanda, Herman Mellema, untuk dijadikan sebagai gundik. Hingga diceritakan Nyai Ontosoroh pun berubah menjadi seseorang yang berwawasan dan berprilaku layaknya aristocrate bangsa Eropa yang sangat santun dan modern. Padahal semua perubahan dari Nyai Ontosoroh hanya dicapai dari kegemarannya membaca dan membaca, semua buku-buku dan majalah terbitan bangsa Eropa milik suaminya sudah habis dibacanya, bahkan dipraktekan.
Novel ini berusaha menunjukan bahwa perempuan juga bisa pandai dan berwawasan layaknya laki-laki, bahkan melebihi, itu semua tergantung dari niat dan usaha tanpa pernah putus asa. Novel ini juga menunjukan akan adanya penindasan-penindasan yang dialami oleh perempuan. Baik yang dilakukan oleh laki-laki maupun pemerintah Hindia Belanda. Sebuah novel yang bagus untuk membangkitkan semangat para perempuan agar berani lebih pandai dan lebih meluaskan wawasan, tidak hanya memikirkan kecantikan secara fisik saja. Bukan bertujuan untuk membenci laki-laki, tapi agar membuat laki-laki semakin berpikir 1000x jika ingin melakukan penindasan terhadap perempuan. Bukankah harmoni dari laki-laki yang menghargai kedudukan perempuan, dan perempuan yang bisa mengerti keinginan laki-laki, akan menghasilkan penghidupan cinta yang terasa damai dan nyaman di bumi ini.
This Earth of Mankind adalah versi bahasa Inggris dari novel Bumi Manusia, terbitan Penguin Books USA, karya Pramoedya Ananta Toer, salah satu tonggak sastrawan Indonesia angkatan 45 bersama Chairil Anwar (puisi) dan Idrus (prosa & cerpen). Kakek berkelahiran di Blora-Jawa Tengah lebih dari 90 tahun yang lalu ini pernah mengenyam penjara pengasingan pada jaman Orde Baru di pulau Buru-Maluku. Bumi Manusia sendiri adalah novel pertama dari tetralogi novel Roman Karya Pulau Burunya (Bumi Manusia – Anak Bangsa – Jejak Langkah – Rumah Kaca). Jadi This Earth of Mankind adalah salah satu bukti bahwa sastrawan Indonesia pun mampu menciptakan karya-karya berkualitas, yang sayangnya kenapa justru banyak mendapatkan pengakuan dan penghargaan dari dunia internasional, bukan dari negaranya sendiri yang sangat dicintai oleh sang pengarang.

KEPEMIMPINAN MUDA - Hanya sekedar mangga karbitan! Atau, inilah saatnya!

Menjelang diadakannya kembali sebuah pesta terbesar di republik ini pada tahun 2009 nanti, saat ini telah tersebar berbagai bentuk promosi yang kesemuanya jelas bertujuan sama, yakni memenangkan pesta rakyat itu.
Benar, Pemilu 2009 yang merupakan Pemilu ketiga semenjak jatuhnya rezim Orde Baru, secara resmi nanti akan diikuti oleh 34 partai politik. Memang masih kalah banyak jika dibandingkan dengan Pemilu 1999, tapi tetap saja menimbulkan banyak lerumitan bagi kalangan rakyat kecil.
Banyak yang mengaku kebingungan dengan jumlah partai yang demikian banyak, yang bahkan jumlah jari di tubuh kita saja masih tak cukup untuk menghitungnya. Tapi sejatinya bukan masalah jumlah partai yang begitu banyak itu yang menjadi akar permasalahannya, melainkan semakin beratnya mengarungi hidup di republik inilah yang menjadi titik stres bagi mayoritas rakyat.
Memang jumlah orang-orang kaya baru semakin betambah, tapi hal itu tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan jumlah rakyat di bawah garis kemiskinan yang merupakan jumlah mayoritas di republik ini semakin menggemuk saja setiap harinya.
Bukankah rakyat miskin itulah yang menjadi penyumbang suara terbesar dalam setiap Pemilu?
Tepat! Bahkan seharusnya kepada mereka-lah ucapan terima kasih untuk pertama kalinya diucapkan oleh para pemenang Pemilu terdahulu.
Tapi, bukankah mereka sudah mendapatkan kaos-kaos kampanye secara gratis? Juga suguhan panggung-panggung musik dengan penyanyi yang sexy dan seronok, bahkan ada yang menerima selembar uang puluhan ribu menjelang pencoblosan.
Apa benar itu yang mereka inginkan? Bukan! Bukan itu!
Itu semua hanya sesaat saja, semu! Sekaligus pembodohan terhadap rakyat kecil. Jujur saja, jumlah rakyat yang berusia diatas 17 tahun di republik ini yang berpendidikan di bawah setingkat SMU masih sangat banyak. Bahkan tak sedikit yang sama sekali tidak mengenyam bangku sekolah. Bandingkan dengan para elit politik partai, atau para tim suksesnya. Pasti di belakang namanya tertulis berderet-deret gelar yang seakan-akan terasa semakin mudah saja dalam meraihnya.
Jangan! Jangan sampai ritual pembodohan terhadap rakyat kecil masih terus dilakukan di setiap jengkal pesta rakyat di republik ini!
Inilah saatnya! Benar, inilah saatnya!
Saat untuk muncul dan berperan penting dalam pesta rakyat. Bukan hanya sebagai penyumbang suara, atau penggembira saja. Tapi juga dalam proses perombakan pemenang Pemilu. Ingat! Pemenang Pemilu adalah penggerak roda pemerintahan. Dan penggerak roda pemerintahan adalah pengatur dan penentu keputusan dalam berkehidupan di republik ini.
Ayo generasi muda, mari kita bangkit bersama!
Tapi, apa benar generasi muda di republik ini sudah siap? Beberapa nama memang sudah pantas untuk dikalungi rantai kesiapan, tapi secara umum apa sudah siap?
Jangan sampai seperti buah mangga karbitan! Terlihat ranum, memang. Tercium harum matang, memang. Bahkan ketika dikupas kulitnya, dagingnya terlihat berwarna buah yang sudah matang. Dan irisan tipis pertamanya pun terkecap manis di lidah.
Tapi seberapa dalam? Seberapa dalam irisan dagingnya masih terlihat berwarna matang? Juga seberapa dalam irisan dagingnya masih terkecap manis?
Kepemimpinan muda diharapkan tidak akan mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan oleh kepemimpinan terdahulu. Kepemimpinan muda juga diminta untuk bisa meneruskan kebajikan dari kepemimpinan terdahulu.
Apa tidak terlalu dini? Jaman sekarang dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi yang begitu pesat dan terbuka, kamus kata terlalu dini sepertinya harus diberi tanda keterangan, bisa ya bisa tidak. Ya terlalu dini, karena memang usianya masih belum menunjukan kematangan dlam memimpin. Tapi tidak terlalu dini, kalau sudah berbekal diri dengan ilmu pengetahuan dan tehnologi yang cukup dan progresif. Kenapa hanaya cukup? Sebab ilmu pengetahuan dan tehnologi itu sendiri terus berkembang, tak pernah berhenti. Jadi tak pernah ada kata lebih dari cukup untuk membekali diri dengan ilmu pengetahuan dan tehnologi.
Jadi dengan mempelajari ilmu pengetahuan dan tehnologi itulah proses kematangan dan berpengalaman yang membutuhkan waktu-waktu yang lebih lama bisa dipercepat. Sebagai contoh saja, koral dan karang laut yang bila secara alami dalam 1 tahun hanya tumbuh tak sampai dari 1 cm, saat ini bisa ditumbuhkan hingga berbunga hanya dalam 1 tahun saja. Benar! Mau bukti, silahkan lihat di beberapa pesisir pulau Bali.
Jadi inilah tugas kepemimpinan muda, untuk selalu membekali diri, terus tanpa henti. Sebab bisa jadi kepemimpinan muda adalah harapan terakhir dari rakyat di republik ini. Lihatlah, bagaimana jumlah rakyat yang semakin enggan untuk sekedar datang dan mencoblos di TPS-TPS pada beberapa Pilkada baru-baru ini. Itulah gambaran rakyat yang semakin malas untuk memberika suaranya, bagaimanapun rakyat semakin pintar. Mereka semakin tak mau dibodohi, tak mau menggunakan hak suaranya karena merasa akan sama saja, tetap terasa berat mengarungi hidup di republik ini.
Atau fenomena menangnya beberapa kandidat di Pilkada dimana kandidat-kandidat itu mencerminkan sosok kepemimpinan muda. Inilah gambaran dari rakyat yang menginginkan perubahan dalam sosok kepemimpinan yang lebih fresdan muda. Tidak hanya di republik ini saja, lihatlah bagaimana sesosok muda dan berkulit hitam pula saat ini menjadi kandidat terkuat Presidan Amerika Serikat, negara yang dianggap super power itu.
Jadi, untuk generasi muda di republik ini, jangan pernah rela hanya di nina bobokan. Juga jangan lantas berkobar dengan bangga menunjukan diri yang hanya bermodalkan mangga karbitan.
Tapi, mari buka mata dan buka telinga. Buka pikiran dan hati. Jangan centang perenang dan meributkan satu sama lain. Tapi, kebersamaan untuk membekali diri, dan kebersamaan dalam mewujudkan cita-cita pendiri republik ini yang dulu pernah berujar bahwa negara ini akan menjadi negara Mercusuar Dunia.
Generasi muda, mari kita berjalan lurus dan pandanglah dengan tatapan bersahaja. Mari kita lantangkan: “Kepemimpinan muda.. inilah saatnya!”

Read - Pray - Love

Mungkin dulu sempat terbersit asa yang hampir tenggelam, but thanks to U. Manusia-manusia yang masih memiliki semangat berkehidupan, bukan sekedar hidup untuk makan. Makan? Tentu semua manusia berhak untuk makan, asal tidak makan dari sendok yang sedang digunakan yang lain tanpa ijin. Atau bahkan dari piring satu-satunya milik tetangga yang sedang tertidur.

Baiklah, mari kita berteman. Bukan teman yang sengaja menyelipkan lintah di bawah selimut, juga bukan teman yang hanya tersenyum disaat bertatap muka saja.

Tapi, teman yang siap berbagi darah ketika diperlukan. Bukan terpaksa, tapi terpanggil. Bukan mengaduh, tapi memberi.

Baca, lihat realita yang ada disekitar kita. Sudah tersenyumkah mereka? Sudah berkembangkah mereka? Sudah ternyamankah mereka?

Doa, semoga semua ini hanya mimpi buruk sesaat saja. Bukan realita yang harus terjadi selamanya.

Cinta, jika itu semua benar nyata, mari kita bagi kue cinta ini. Sekecil apapun, secuil apapun, asal terbagi. Agar mereka bisa tersenyum, bisa berbunga, bisa berkembangbiak, dan bahkan bisa selalu membuat tempat ternyaman di jagad raya ini.

Renungkan, sesungguhnya sekecil apapun cinta yang kita bagikan, kan selalu berbalik kembali pada kita dan anak turun kita.

God bless us..