Setelah Maria dan Aisha, kini Eliana..

29 Nov 2008

ketika-cinta-bertasbih-episode-1.jpgSetelah Ayat Ayat Cinta yang menggambarkan sosok Maria, perempuan yang gemar membaca buku-buku sastra dan berpandangan luas lintas agama, serta sosok Aisha, perempuan yang berani melawan pandangan masyarakat ketika menolong memberikan tempat duduk untuk warga dari negara yang dibenci oleh masyarakat.
Kini Habiburrahman El Shirazy kembali mengangkat sosok perempuan bernama Eliana dalam novel Ketika Cinta Bertasbih (episode 1), gadis Indonesia yang dikenal cerdas hingga berani mengkritik Liga Arab yang dianggap kurang garang. Bahkan sosok pintar dan modern Eliana tetap bisa membumi, sebagai perempuan Eliana tetap pandai memasak. Benar-benar kombinasi perempuan yang diimpikan para laki-laki, ditambah lagi dengan fisik Eliana yang memang rupawan.

Entah kenapa, saya sendiri masih meraba-raba dengan tulisan Habiburrahman El Shirazy yang gemar mempertontonkan sosok-sosok perempuan dalam berbagai karyanya. Bukan sekedar perempuan, tapi yang pasti perempuan yang ditampakan memang perempuan yang mempunyai sikap maupun pemikiran yang berbeda dengan perempuan kebanyakan.
Kalau saya pribadi memandang positif dengan tulisan-tulisan Habiburrahman El Shirazy, karena perempuan-perempuan tersebut saya pandang sebagai sosok perempuan mandiri, modern, cerdas dan kritis tanpa kehilangan sikap alami keperempuanan serta pemikiran alim akan agamanya. Benar-benar sosok perempuan idaman bagi saya, bukan dalam hal fisik tentunya, sebab penggambaran fisik bisa bersifat relatif bagi setiap orang.
Nah, mungkin itulah yang ingin dituangkan oleh Habiburrahman El Shirazy. Sebab dengan dengan semakin banyaknya sosok perempuan yang mandiri, modern, cerdas dan kritis tanpa kehilangan sikap alami keperempuanan serta pemikiran alim akan agama, akan semakin bisa mengurangi jumlah perempuan yang tertindas oleh laki-laki. Maaf tentu saja, saya juga seorang laki-laki. Tapi realita sejarah dari dulu memang banyak terjadi penindasan oleh laki-laki terhadap perempuan, baik secara fisik maupun batin.
Terus apa perempuan harus membalas? Seharusnya tidak perlu dibalas dengan perlakuan serupa, sebab saya tak bisa membayangkan bila bumi ini pecah jadi 2 misalnya, negara laki-laki dan negara perempuan, serem banget deh. Lalu? Jadilah perempuan-perempuan seperti sosok dalam novel-novel Habiburrahman El Shirazy, tidak be yourself dong, atau malah plagiat, bukan sama sekali. Sosok perempuan-perempuan itu hanya sebagai contoh saja, contoh sosok perempuan yang meluaskan pemikirannya setinggi langit, tapi tetap berhati membumi sealami perempuan.
Wah, koq jadi melebar pembahasannya ya. Sorry-sorry, sekarang yang jelas silahkan teman-teman baca sendiri novel Ketika Cinta Bertasbih (episode 1). Silahkan beli sendiri tentunya, tapi sekali lagi maafkan saya. Saya kembali hanya bisa membagi versi e-booknya.
ketika-cinta-bertasbih-episode-1.jpgJadi, silahkan teman-teman free download e-book Ketika Cinta Bertasbih (episode 1) atau klik disini. Dan selamat membaca sebelum versi filmnya nongol di bioskop…


TAGS Indonesia novel love


-

Author

Follow Me