
Minke, panggilan ini pertama kali dilontarkan oleh Meneer Ben Rooseboom, guru pertamanya di E.L.S (semacam Sekolah Dasar). Sejak itu teman-teman di seluruh kelas dan guru-guru memanggilnya dengan nama itu. Semua orang di luar E.L.S juga, bahkan kakeknya sendiri, seorang pribumi yang tidak bisa membaca dan menulis tulisan latin apalagi Belanda, justru setuju menerima nama panggilan itu sebagai nama tetap. Sebuah nama kehormatan dari seorang guru yang baik dan bijaksana, begitu titah kakeknya. Walaupun seingatnya, Meneer Ben Rooseboom sendiri pada saat menyebut nama itu untuk pertama kalinya, diucapkan dengan mata melotot dan alis seperti hendak copot.
Lalu sejak sekolah di H.B.S (semacam Sekolah Menengah Atas) Surabaya, Minke dikenal mengagumi seorang dara yang cantik, kaya, berkuasa, dan gilang gemilang. Yang bahkan bankier-bankier terkaya di dunia dan para ningrat gagah sekalipun tidak bisa mendapatkan perhatian dari sang dara. Dara kekasih para dewa, demikian Minke menyebut sang dara, seumuran dengannya. Delapan belas tahun, bahkan hari kelahiran mereka juga sama, 3 Agustus 1880. Jika ingin menemui dara kekasih para dewa ini, pelayaran sebulan naik kapal, mengarungi dua samudera, lima selat dan satu terusan harus dilalui. Itu pun belum tentu bisa menemui sang dara, dara yang baru saja pada hari Kamis Kliwon 6 September 1898 naik tahta sebagai Ratu kerajaan Belanda, dialah Sri Ratu Wilhelmina.
Hingga suatu saat Minke berkunjung ke Boerderij Buitenzorg (Perusahaan Pertanian Buitenzorg) di daerah sekitaran Wonokromo, Surabaya. Disana dia bertemu dengan Annelies Mellema dan Nyai Ontosoroh. Annelies adalah seorang perempuan berdarah Indo, anak kedua dari Herman Mellema dan Nyai Ontosoroh. Dalam pandangan Minke, Annelies Mellema adalah sosok dara nyata berdaging yang bisa menandingi kecantikan sang dara impiannya. Annelies Mellema mempunyai sifat yang sedikir aneh, dari seorang anak kecil yang suka bermanja-manja pada ibunya langsung berubah menjadi seorang mandor tegas yang disukai oleh para pekerjanya. Sedangkan Nyai Ontosoroh adalah seorang perempuan pribumi yang menjadi gundik (isteri simpanan) seorang mantan pejabat pemerintah kolonial Belanda, Herman Mellema. Hingga akhirnya Minke jatuh cinta dan menikahi Annelies Mellema.
Keadaan menjadi runyam saat Herman Mellema ditemukan mati keracunan di sebuah rumah bordil milik Babah Ah Tjong. Ditambah dengan kedatangan anak Herman Mellema dari isteri syahnya di Belanda, Amelia Mellema-Hammers, yang bernama Ir. Maurits Mellema. Yang datang untuk menyita semua aset kekayaan Herman Mellema di Surabaya, yang termasuk rumah dan perusahaan yang selama ini dikelola oleh Nyai Ontosoroh bersama Annelies Mellema. Pengadilan Hindia Belanda sendiri akhirnya memutuskan harta kekayaan Herman Mellema sebagai hak milik Ir. Maurits Mellema, bahkan Annelies Mellema juga harus dideportasi ke Belanda dibawah asuhan Ir. Maurits Mellema.
Dengan setting kota Surabaya pada era akhir abad 19, novel ini menunjukan kehidupan bangsa Indonesia dibawah penjajahan kolonial Belanda. Dari sosok Minke, penggemar tulisan Multatuli (Eduard Douwes Dekker), seorang pribumi anak seorang Bupati yang sudah berpikiran modern layaknya seorang keturunan Eropa, yang berani jatuh cinta pada seorang dara indo nan cantik. Hingga sosok Nyai Ontosoroh, perempuan pribumi yang pada usia 13 tahun sudah dijual oleh ayahnya yang seorang juru tulis yang ingin meningkatkan karir, kepada seorang pejabat Belanda, Herman Mellema, untuk dijadikan sebagai gundik. Hingga diceritakan Nyai Ontosoroh pun berubah menjadi seseorang yang berwawasan dan berprilaku layaknya aristocrate bangsa Eropa yang sangat santun dan modern. Padahal semua perubahan dari Nyai Ontosoroh hanya dicapai dari kegemarannya membaca dan membaca, semua buku-buku dan majalah terbitan bangsa Eropa milik suaminya sudah habis dibacanya, bahkan dipraktekan.
Novel ini berusaha menunjukan bahwa perempuan juga bisa pandai dan berwawasan layaknya laki-laki, bahkan melebihi, itu semua tergantung dari niat dan usaha tanpa pernah putus asa. Novel ini juga menunjukan akan adanya penindasan-penindasan yang dialami oleh perempuan. Baik yang dilakukan oleh laki-laki maupun pemerintah Hindia Belanda. Sebuah novel yang bagus untuk membangkitkan semangat para perempuan agar berani lebih pandai dan lebih meluaskan wawasan, tidak hanya memikirkan kecantikan secara fisik saja. Bukan bertujuan untuk membenci laki-laki, tapi agar membuat laki-laki semakin berpikir 1000x jika ingin melakukan penindasan terhadap perempuan. Bukankah harmoni dari laki-laki yang menghargai kedudukan perempuan, dan perempuan yang bisa mengerti keinginan laki-laki, akan menghasilkan penghidupan cinta yang terasa damai dan nyaman di bumi ini.
This Earth of Mankind adalah versi bahasa Inggris dari novel Bumi Manusia, terbitan Penguin Books USA, karya Pramoedya Ananta Toer, salah satu tonggak sastrawan Indonesia angkatan 45 bersama Chairil Anwar (puisi) dan Idrus (prosa & cerpen). Kakek berkelahiran di Blora-Jawa Tengah lebih dari 90 tahun yang lalu ini pernah mengenyam penjara pengasingan pada jaman Orde Baru di pulau Buru-Maluku. Bumi Manusia sendiri adalah novel pertama dari tetralogi novel Roman Karya Pulau Burunya (Bumi Manusia – Anak Bangsa – Jejak Langkah – Rumah Kaca). Jadi This Earth of Mankind adalah salah satu bukti bahwa sastrawan Indonesia pun mampu menciptakan karya-karya berkualitas, yang sayangnya kenapa justru banyak mendapatkan pengakuan dan penghargaan dari dunia internasional, bukan dari negaranya sendiri yang sangat dicintai oleh sang pengarang.