World News Online

budihermanto.blogdetik.com

Archive for the ‘Poems’


Anugerah.. Suargaloka..

couple_silouette.jpg

Kepandaian..
Kekayaan..
Kederajatan..
Bahkan kesucian, masih saja terasa kurang

(more…)

Wahai negeri yang damai..

peace-sign.jpg

Wahai negeri yang damai..

Yang tanahnya jadi tempat pijakan..

Tempat-tempat suci..

Dari berbagai keyakinan..

(more…)

Detik..

tahun-baru-hijriyah.jpg

Ada seorang bertanya..
Kapan saat yang merugikan kita setahun ini..
Yang ditanya menjawab..
Ketika 1 detik yang lalu..
Kita tidak melakukan apa-apa..
..
(more…)

Semoga sang Dalang segera merubah cerita..

gunungan1.jpg
Semar tergeletak di ranjang, kesakitan..
Shinta teraniaya oleh Rama..
Rahwana menginjak-injak Petruk dan Bagong..
Arjuna hanya sembunyi di ketiak Srikandi..
(more…)

Anugerah Suargaloka

Kepandaian..
Kekayaan..
Kederajatan..
Bahkan kesucian, masih saja terasa kurang
Dan dengarkanlah..!
Bagaimana Adam memohon
Memohon adanya seorang kekasih untuknya
Hawa, kekasih yang bahkan lebih istimewa dari langit
Lalu lihatlah..!
Bagaimana keduanya dipisahkan
Dipisahkan ribuan jarak dan ratusan waktu
Bumi, pijakan yang bahkan tak ada secuil dari cinta mereka
Hingga resapilah..!
Bagaimana keduanya selalu yakin
Yakin bahwa inilah anugerah
Suargaloka, impian yang bahkan Tuhan sendiri yang menyajikan

[Seberat apapun dalam mengarungi kehidupan ini, sudah sepantasnya lah untuk selalu dibanggakan dan diyakinkan pada yang lain, karena sesungguhnya semakin besar cinta Tuhan pada makhluk, maka semakin berat ujian yang kan dianugerahkan-Nya]

Intan, emas dan busung lapar

Siapa berani menyangkal
Dari perutmu berbuah intan
Dari dadamu mengalir emas
Dengan intan dan emas itu
Bisa kau dapatkan kendaraan tercanggih dari Romawi
Dengan intan dan emas itu
Bisa kau dapatkan pakaian termewah dari Babilonia
Dengan intan dan emas itu
Bisa kau dapatkan makanan terlezat dari Himalaya
Tapi..
Mengapa kau masih berjalan tanpa alas kaki?
Mengapa kau masih berbaju daun dari hutan?
Mengapa kau masih membuncit karena busung lapar?
Siapa..
Siapa yang memetik intan dari perutmu?
Siapa yang menghisap emas dari dadamu?
Memetik dan menghisap tanpa sepengetahuanmu
Memetik dan menghisap bukan untukmu

Save the Papua!

Kenapa? Apa salahku?

Sekilat cahaya menusuk mata
Suara gemuruh memecahkan gendang telinga
Gelap..
Gelap dimana-mana
Sayup-sayup suara bertebaran
Erangan manusia-manusia menyayat pilu
Ada yang menangis
Ada yang merintih
Ada juga yang diam
Tidak bisa menangis
Tidak bisa merintih
Diam..
Diam selamanya
Ceceran darah ada di lantai
Ceceran daging ada di langit-langit
Potongan tubuh manusia terlempar kemana-mana
Itu..
Itu potongan tubuh ayahku
Itu potongan tubuh ibuku
Itu potongan tubuh suamiku
Itu potongan tubuh isteriku
Itu potongan tubuh anakku
Kenapa?
Kenapa kau turunkan tangan mautmu?
Apa salah ayahku?
Apa salah ibuku?
Apa salah suamiku?
Apa salah isteriku?
Apa salah anakku?
Apa salahku?

Stop terorism!

Air murka atau air senyum

Belum hilang suara desingan peluru-peluru itu
Selongsongan peluru yang terjatuh pun masih berserakan
Belum hilang rasa sakit akibat tembakan itu
Darah yang mengalir dari luka pun masih belum mengering
Kini bukan lagi selongsongan peluru yang berserakan
Kini bukan lagi darah yang mengalir
Peluru-peluru itu telah terseret
Darah-darah itu telah tersapu
Oleh air
Air yang berasal dari dalam samudera
Air yang tergerak oleh gesekan perut bumi
Air yang datang dengan gagah
Air yang ingin memeluk bumi
Menerjang semua yang menghalanginya
Inikah air murka Mu
Atau inikah air senyum Mu
Hanya satu pinta kami
Tetap lirik kami
Tetap toleh kami

Please, heal the Aceh